Melupakan sesuatu secara tidak sengaja tidaklah sulit karena memang lupa untuk mengingatnya.
Dalam hal tertentu, mengingat sesuatu yang buruk akan sangat menyakitkan karena hal buruk tersebutlah yang mengakhiri sesuatu yang sebelumnya adalah baik.
Mengingat hal yang baik juga sangat menyakitkan karena hal baik itu sekarang telah terlewati dan diakhiri oleh hal buruk. Sakit, karena hal baik itu sudah tidak dirasakan lagi.
Tapi melupakannya hal tersebut juga bukan hal yang mudah karena ada bagian yang terdalam tidak merelakannya dan hal ini bisa lebih menyakitkan. Seindah-indahnya melupakan kadang masih lebih indah kesakitan karena mengingatnya.
sakit karena lupa
lupa karena sakit
ingat karena sakit
sakit karena ingat
lupa dan ingat karena sakit
sakit karena lupa dan ingat
dan
setidaknya masih ada yang diingat walapun sakit
dan bisa lebih sakit karena tidak mengingatnya
lupa dan ingat sama-sama sakit
fiuhh......
Sabtu, 07 Juni 2008
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 12.38 0 komentar
Menari sebelum duduk
Sabtu, 31 Mei 2008
Aku hanya ingin mencari tempat duduk yang nyaman dengan kursi bersandar dan pemandangan luas untuk menyaksikan tarian-tarian hidup.
Sebelum duduk disana aku ingin menari dengan dengan gerakan yang dinamis dan menyanyi tanpa nada-nada sumbang dialektika materialistis.
Setelah puas menari dan bernyanyi aku ingin duduk disana dengan sesekali memejamkan mata untuk merenungkan apa yang aku lihat.
Tapi entahlah kini pengelihatanku mulai kabur, sudut pandangku mulai menyempit, dialekku mulai berubah.
Aku merasa sudah terlalu banyak menciptakan belenggu-belenggu dengan dialek monoton dan algoritma statis tanpa esensi yang jelas.
Aku mulai ragu apakah jika aku sudah mendapatkan tempat duduku aku bisa melihat dengan jelas.
Tapi aku masih ingin menari sebelum duduk bersandar.....
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 13.53 0 komentar
Label: kontemplasi, ngawur
Ekonomi yang tangguh
Minggu, 23 Maret 2008
Belum lama ini wapres tercinta kita berkata :
hmm....
benar sekali pak wapres...!
Buktinya tukang becak makannya nasi aking masih bisa narik.....
Dan ada wanita hamil yang mending mati kelaparan dari pada minta makan kepada bapak-bapak petinggi negri ini..
Ngomong gak perlu kulakan, jadi boleh ngasal.
Iya.. kan pak...?????
Kayak kentut ajah..
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 22.41 0 komentar
Label: sekitar
Untuk apa belajar?
Rabu, 12 Maret 2008
Di sebuah majalah/koran entah apa saya lupa karena sudah lama sekali yang kurang lebihnya seperti ini:
Semakin kurang belajar semakin kurang tahu
Semakin kurang tahu semakin kurang lupa
Semakin kurang lupa semakin banyak tahu
Semakin banyak tahu semakin banyak lupa
Semakin banyak lupa semakin kurang tahu
Semakin kurang tahu membuat semakin ingin banyak belajar
Semakin banyak belajar semakin banyak tahu
Semakin banyak tahu semakin banyak lupa
Semakin banyak lupa semakin kurang tahu
Jadi..... untuk apa belajar?
Ya... memang gak ada gunanya?
Halah, kok ya jadi ngelantur aku...
Hmmm........
fffffiuh.....
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 01.57 0 komentar
Label: ngawur
Perdamaian pada 13 February 2008
Rabu, 05 Maret 2008
Perpisahan tanpa perdamaian merupakan media yang cocok untuk mengkristalkan dendam, dimana masing-masing pihak juga harus berdamai dengan entitas yang ada dalam dirinya seperti perasaan, pikiran, kenangan-kenangan yang telah dilewati.
Tanpa keikhlasan untuk berdamai antara entitas-entitas tersebut maka perdamain kedua belah pihak hanyalah ilusi kesepakatan dan sejauh apapun melangakah akan selalu terbebani masa lalu yang bisa menyesatkan diri pada dimensi yang terpinggirkan waktu dan terselip di pojokan zaman.
Sementara tarian-tarian kehidupan yang dinamis terus bergerak dengan indahnya....
diiringi oleh aneka rasa seperti
pahit,
manis,
asem,
dan asin.
Seperti permen,
Ya......
Seperti permen nano-nano....
ffiuh.....
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 02.42 2 komentar
Label: kontemplasi
Ketidak pedulian dan pemulung
Senin, 17 Desember 2007
Kenapa marah..?Memang seharusnya kemarahan ditujukan terhadap ketidak pedulianku terhadap budaya negeri ini.
kenapa marah ketika mereka menggunakan budaya kita dan mengklaimnya..?
apakah selama ini saya perduli terhadap reog dan lagu rasa sayange..?
apa alasan saya marah ketika pemulung tersebut mengambil sesuatu yang sudah tidak kita perdulikan lagi..?
Apakah itu karena alasan nasioalisme..?
Kalau karena nasionalisme kenapa tidak mencintai budaya negeri sendiri..?
kenapa kita tidak perduli terhadap budaya kita yang seharusnya menjadi identitas kita...?
manusia macam apa saya ini...?
Ya.... seharusnya marah sekali,
tapi terhadap siapa?
dan untuk apa marah..?
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 19.27 2 komentar
Label: kontemplasi
Hidup di dunia yang sudah ada dunia
Minggu, 25 November 2007
"Kita hidup di dunia, dunia sudah ada kenapa kita masih mencari dunia"
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 23.53 0 komentar
Label: kontemplasi