Sabtu, 07 Juni 2008

Melupakan sesuatu secara tidak sengaja tidaklah sulit karena memang lupa untuk mengingatnya.
Dalam hal tertentu, mengingat sesuatu yang buruk akan sangat menyakitkan karena hal buruk tersebutlah yang mengakhiri sesuatu yang sebelumnya adalah baik.

Mengingat hal yang baik juga sangat menyakitkan karena hal baik itu sekarang telah terlewati dan diakhiri oleh hal buruk. Sakit, karena hal baik itu sudah tidak dirasakan lagi.

Tapi melupakannya hal tersebut juga bukan hal yang mudah karena ada bagian yang terdalam tidak merelakannya dan hal ini bisa lebih menyakitkan. Seindah-indahnya melupakan kadang masih lebih indah kesakitan karena mengingatnya.

sakit karena lupa
lupa karena sakit
ingat karena sakit
sakit karena ingat
lupa dan ingat karena sakit
sakit karena lupa dan ingat
dan
setidaknya masih ada yang diingat walapun sakit
dan bisa lebih sakit karena tidak mengingatnya

lupa dan ingat sama-sama sakit

fiuhh......

Menari sebelum duduk

Sabtu, 31 Mei 2008

Aku hanya ingin mencari tempat duduk yang nyaman dengan kursi bersandar dan pemandangan luas untuk menyaksikan tarian-tarian hidup.
Sebelum duduk disana aku ingin menari dengan dengan gerakan yang dinamis dan menyanyi tanpa nada-nada sumbang dialektika materialistis.
Setelah puas menari dan bernyanyi aku ingin duduk disana dengan sesekali memejamkan mata untuk merenungkan apa yang aku lihat.

Tapi entahlah kini pengelihatanku mulai kabur, sudut pandangku mulai menyempit, dialekku mulai berubah.
Aku merasa sudah terlalu banyak menciptakan belenggu-belenggu dengan dialek monoton dan algoritma statis tanpa esensi yang jelas.

Aku mulai ragu apakah jika aku sudah mendapatkan tempat duduku aku bisa melihat dengan jelas.
Tapi aku masih ingin menari sebelum duduk bersandar.....

Ekonomi yang tangguh

Minggu, 23 Maret 2008

Belum lama ini wapres tercinta kita berkata :

"Ekonomi kita sangat tangguh. Tak ada ekonomi di dunia ini yang setangguh Indonesia. Semua negara di dunia saat ini kesulitan akan energi, sementara semua energi ada di Indonesia ini"

hmm....
benar sekali pak wapres...!
Buktinya tukang becak makannya nasi aking masih bisa narik.....
Dan ada wanita hamil yang mending mati kelaparan dari pada minta makan kepada bapak-bapak petinggi negri ini..


Ngomong gak perlu kulakan, jadi boleh ngasal.
Iya.. kan pak...?????

Kayak kentut ajah..

Untuk apa belajar?

Rabu, 12 Maret 2008

Di sebuah majalah/koran entah apa saya lupa karena sudah lama sekali yang kurang lebihnya seperti ini:

Semakin kurang belajar semakin kurang tahu

Semakin kurang tahu semakin kurang lupa

Semakin kurang lupa semakin banyak tahu

Semakin banyak tahu semakin banyak lupa

Semakin banyak lupa semakin kurang tahu

Semakin kurang tahu membuat semakin ingin banyak belajar

Semakin banyak belajar semakin banyak tahu

Semakin banyak tahu semakin banyak lupa

Semakin banyak lupa semakin kurang tahu

Jadi..... untuk apa belajar?
Ya... memang gak ada gunanya?

Tapi mungkin lain halnya kalau pembelajaran tersebut di sertai pemahaman dalam berbagai perspektif, dimana tuntutan untuk kematangan dalam cara memandang menjadi suatu keharusan seiring berjalannya fase-fase hidup yang dilewati.

Halah, kok ya jadi ngelantur aku...
Hmmm........
fffffiuh.....

Perdamaian pada 13 February 2008

Rabu, 05 Maret 2008

Perpisahan tanpa perdamaian merupakan media yang cocok untuk mengkristalkan dendam,  dimana masing-masing pihak juga harus berdamai dengan entitas yang ada dalam dirinya seperti perasaan, pikiran, kenangan-kenangan yang telah dilewati.

Tanpa keikhlasan untuk berdamai antara entitas-entitas tersebut maka perdamain kedua belah pihak hanyalah ilusi kesepakatan dan  sejauh apapun melangakah akan selalu terbebani masa lalu yang bisa menyesatkan diri pada dimensi yang terpinggirkan waktu dan  terselip di pojokan zaman.

Sementara tarian-tarian kehidupan yang dinamis terus bergerak dengan indahnya....

diiringi oleh aneka rasa seperti

pahit,

manis,

asem,

dan asin.

Seperti permen,

Ya......  

Seperti permen nano-nano.... 


ffiuh.....

Ketidak pedulian dan pemulung

Senin, 17 Desember 2007

Ketika saya sedang mencoba tampil mengikuti apa yang mungkin disebut oleh khalayak sebagai trend yang datangnya dari budaya luar, ketika saya sedang asik menonton film hollywood dan ketika sedang mendengarkan musik pop semua itu membuatku merasa uptodate dan tidak kuno. Tetapi tiba-tiba terdengar kabar bahwa lagu rasa sayange dan reog ponorogo di klaim oleh negara tetangga sebagai budaya mereka. Maka dengan spontan dan bernada amarah saya jadi membenci dan timbul rasa memusuhi tetangga kita itu(pemulung), perasaan seperti perlahan surut dan beralih menjadi kemarahan terhadap diri sendiri dan bertanya:

Kenapa marah..?

kenapa marah ketika mereka menggunakan budaya kita dan mengklaimnya..?

apakah selama ini saya perduli terhadap reog dan lagu rasa sayange..?

apa alasan saya marah ketika pemulung tersebut mengambil sesuatu yang sudah tidak kita perdulikan lagi..?

Apakah itu karena alasan nasioalisme..?

Kalau karena nasionalisme kenapa tidak mencintai budaya negeri sendiri..?

kenapa kita tidak perduli terhadap budaya kita yang seharusnya menjadi identitas kita...?

manusia macam apa saya ini...?
Memang seharusnya kemarahan ditujukan terhadap ketidak pedulianku terhadap budaya negeri ini.

Ya.... seharusnya marah sekali,
tapi terhadap siapa?
dan untuk apa marah..?

Hidup di dunia yang sudah ada dunia

Minggu, 25 November 2007

Mendengar ucapan dari dokter Sutjahjo Gani yang merupana cicit dari Tan Khoen Swie , pendiri dan pemilik Boekhandel Tan Khoen Swie membuat sejenak tersadar. Sang dokter berkata ketika dalam acara oasis(metrotv) kurang lebih sebagai berikut :



"Kita hidup di dunia, dunia sudah ada kenapa kita masih mencari dunia"
Sangat mendalam arti dari perkataan sang dokter, membuat saya termenung sejenak dan terhenyak dimana pada saat ini saya seperti terjebak dan terseret derasnya arus kota serta tuntutan akan duniawi sebagai syarat hidup di kota metropolis.

akhirnya sedikit mengerti, bahwa budaya dan seni adalah oasis di padang pasir ataupun tandusnya dialektika materialistis..