Terbenam di dimensi masa lalu merupakan hal yang sangat merugikan, karena sebesar-besarnya usaha yang dikeluarkan tak akan bisa merubahnya dimana dalam kondisi ini akan menutup terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bisa diciptakan oleh kemampuan sendiri di masa yang akan datang. Dan seharusnya setiap detik yang akan datang haruslah(diusahakan) bernilai progresif.
Yang lalu dan kemungkinan yang akan datang
Jumat, 20 Juni 2008
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 12.26 0 komentar
Label: kontemplasi
Menari sebelum duduk
Sabtu, 31 Mei 2008
Aku hanya ingin mencari tempat duduk yang nyaman dengan kursi bersandar dan pemandangan luas untuk menyaksikan tarian-tarian hidup.
Sebelum duduk disana aku ingin menari dengan dengan gerakan yang dinamis dan menyanyi tanpa nada-nada sumbang dialektika materialistis.
Setelah puas menari dan bernyanyi aku ingin duduk disana dengan sesekali memejamkan mata untuk merenungkan apa yang aku lihat.
Tapi entahlah kini pengelihatanku mulai kabur, sudut pandangku mulai menyempit, dialekku mulai berubah.
Aku merasa sudah terlalu banyak menciptakan belenggu-belenggu dengan dialek monoton dan algoritma statis tanpa esensi yang jelas.
Aku mulai ragu apakah jika aku sudah mendapatkan tempat duduku aku bisa melihat dengan jelas.
Tapi aku masih ingin menari sebelum duduk bersandar.....
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 13.53 0 komentar
Label: kontemplasi, ngawur
Perdamaian pada 13 February 2008
Rabu, 05 Maret 2008
Perpisahan tanpa perdamaian merupakan media yang cocok untuk mengkristalkan dendam, dimana masing-masing pihak juga harus berdamai dengan entitas yang ada dalam dirinya seperti perasaan, pikiran, kenangan-kenangan yang telah dilewati.
Tanpa keikhlasan untuk berdamai antara entitas-entitas tersebut maka perdamain kedua belah pihak hanyalah ilusi kesepakatan dan sejauh apapun melangakah akan selalu terbebani masa lalu yang bisa menyesatkan diri pada dimensi yang terpinggirkan waktu dan terselip di pojokan zaman.
Sementara tarian-tarian kehidupan yang dinamis terus bergerak dengan indahnya....
diiringi oleh aneka rasa seperti
pahit,
manis,
asem,
dan asin.
Seperti permen,
Ya......
Seperti permen nano-nano....
ffiuh.....
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 02.42 2 komentar
Label: kontemplasi
Ketidak pedulian dan pemulung
Senin, 17 Desember 2007
Kenapa marah..?Memang seharusnya kemarahan ditujukan terhadap ketidak pedulianku terhadap budaya negeri ini.
kenapa marah ketika mereka menggunakan budaya kita dan mengklaimnya..?
apakah selama ini saya perduli terhadap reog dan lagu rasa sayange..?
apa alasan saya marah ketika pemulung tersebut mengambil sesuatu yang sudah tidak kita perdulikan lagi..?
Apakah itu karena alasan nasioalisme..?
Kalau karena nasionalisme kenapa tidak mencintai budaya negeri sendiri..?
kenapa kita tidak perduli terhadap budaya kita yang seharusnya menjadi identitas kita...?
manusia macam apa saya ini...?
Ya.... seharusnya marah sekali,
tapi terhadap siapa?
dan untuk apa marah..?
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 19.27 2 komentar
Label: kontemplasi
Hidup di dunia yang sudah ada dunia
Minggu, 25 November 2007
"Kita hidup di dunia, dunia sudah ada kenapa kita masih mencari dunia"
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 23.53 0 komentar
Label: kontemplasi
Selera Propaganda
Minggu, 11 November 2007
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 13.05 0 komentar
Label: kontemplasi