Tampilkan postingan dengan label kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Yang lalu dan kemungkinan yang akan datang

Jumat, 20 Juni 2008

Terbenam di dimensi masa lalu merupakan hal yang sangat merugikan, karena sebesar-besarnya usaha yang dikeluarkan tak akan bisa merubahnya dimana dalam kondisi ini akan menutup terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bisa diciptakan oleh kemampuan sendiri di masa yang akan datang. Dan seharusnya setiap detik yang akan datang haruslah(diusahakan) bernilai progresif.

Menari sebelum duduk

Sabtu, 31 Mei 2008

Aku hanya ingin mencari tempat duduk yang nyaman dengan kursi bersandar dan pemandangan luas untuk menyaksikan tarian-tarian hidup.
Sebelum duduk disana aku ingin menari dengan dengan gerakan yang dinamis dan menyanyi tanpa nada-nada sumbang dialektika materialistis.
Setelah puas menari dan bernyanyi aku ingin duduk disana dengan sesekali memejamkan mata untuk merenungkan apa yang aku lihat.

Tapi entahlah kini pengelihatanku mulai kabur, sudut pandangku mulai menyempit, dialekku mulai berubah.
Aku merasa sudah terlalu banyak menciptakan belenggu-belenggu dengan dialek monoton dan algoritma statis tanpa esensi yang jelas.

Aku mulai ragu apakah jika aku sudah mendapatkan tempat duduku aku bisa melihat dengan jelas.
Tapi aku masih ingin menari sebelum duduk bersandar.....

Perdamaian pada 13 February 2008

Rabu, 05 Maret 2008

Perpisahan tanpa perdamaian merupakan media yang cocok untuk mengkristalkan dendam,  dimana masing-masing pihak juga harus berdamai dengan entitas yang ada dalam dirinya seperti perasaan, pikiran, kenangan-kenangan yang telah dilewati.

Tanpa keikhlasan untuk berdamai antara entitas-entitas tersebut maka perdamain kedua belah pihak hanyalah ilusi kesepakatan dan  sejauh apapun melangakah akan selalu terbebani masa lalu yang bisa menyesatkan diri pada dimensi yang terpinggirkan waktu dan  terselip di pojokan zaman.

Sementara tarian-tarian kehidupan yang dinamis terus bergerak dengan indahnya....

diiringi oleh aneka rasa seperti

pahit,

manis,

asem,

dan asin.

Seperti permen,

Ya......  

Seperti permen nano-nano.... 


ffiuh.....

Ketidak pedulian dan pemulung

Senin, 17 Desember 2007

Ketika saya sedang mencoba tampil mengikuti apa yang mungkin disebut oleh khalayak sebagai trend yang datangnya dari budaya luar, ketika saya sedang asik menonton film hollywood dan ketika sedang mendengarkan musik pop semua itu membuatku merasa uptodate dan tidak kuno. Tetapi tiba-tiba terdengar kabar bahwa lagu rasa sayange dan reog ponorogo di klaim oleh negara tetangga sebagai budaya mereka. Maka dengan spontan dan bernada amarah saya jadi membenci dan timbul rasa memusuhi tetangga kita itu(pemulung), perasaan seperti perlahan surut dan beralih menjadi kemarahan terhadap diri sendiri dan bertanya:

Kenapa marah..?

kenapa marah ketika mereka menggunakan budaya kita dan mengklaimnya..?

apakah selama ini saya perduli terhadap reog dan lagu rasa sayange..?

apa alasan saya marah ketika pemulung tersebut mengambil sesuatu yang sudah tidak kita perdulikan lagi..?

Apakah itu karena alasan nasioalisme..?

Kalau karena nasionalisme kenapa tidak mencintai budaya negeri sendiri..?

kenapa kita tidak perduli terhadap budaya kita yang seharusnya menjadi identitas kita...?

manusia macam apa saya ini...?
Memang seharusnya kemarahan ditujukan terhadap ketidak pedulianku terhadap budaya negeri ini.

Ya.... seharusnya marah sekali,
tapi terhadap siapa?
dan untuk apa marah..?

Hidup di dunia yang sudah ada dunia

Minggu, 25 November 2007

Mendengar ucapan dari dokter Sutjahjo Gani yang merupana cicit dari Tan Khoen Swie , pendiri dan pemilik Boekhandel Tan Khoen Swie membuat sejenak tersadar. Sang dokter berkata ketika dalam acara oasis(metrotv) kurang lebih sebagai berikut :



"Kita hidup di dunia, dunia sudah ada kenapa kita masih mencari dunia"
Sangat mendalam arti dari perkataan sang dokter, membuat saya termenung sejenak dan terhenyak dimana pada saat ini saya seperti terjebak dan terseret derasnya arus kota serta tuntutan akan duniawi sebagai syarat hidup di kota metropolis.

akhirnya sedikit mengerti, bahwa budaya dan seni adalah oasis di padang pasir ataupun tandusnya dialektika materialistis..

Selera Propaganda

Minggu, 11 November 2007

Kehendak untuk mengamini dan memiliki sesuatu adalah hal yang lumrah. Namun apa yang menjadi dasar sebuah keinginan tersebut masih menjadi pertanyaan, apakah kita benar-benar menginginkannya ataukah cuma ikut-ikutan saja. Ketidaktahuan terhadap dasar-dasar yang melandasi keinginan terhadap sesuatu malah menjadi sifat baru yang meracun. Sifat seperti ini masih menjadi sifat yang mendominasi masyarakat Indonesia, entah yang berada di daerah perkotaan maupun di daerah.

Sifat ini merupakan suatu sifat propaganda yang membuat selera masyarakat berubah-ubah, tergantung yang mengawali selera tersebut (trendsetter). Saya tidak setuju dengan sikap para trendsetter ini, karena selera propaganda yang dijual secara manis dihadapan para calon pembelinya, dengan menampilkan adegan-adegan yang "mengundang" orang untuk membeli, sebut saja reklame sebuah produk telekomunikasi yang menawarkan tarif termurah dengan model seorang gadis berpakaian ketat dan menaruh tarif termurah tersebut ditengah-tengah daerah yang "menonjol".

Hebatnya, wajah dan setengah badannya terpampang dihampir sudut kota-kota Indonesia, maklumlah karena wajahnya yang cantik dan senyumnya yang begitu sumringah diikuti dengan pose angka tarif yang terletak didaerah "menonjol" (tentu yang terakhir akan mengganggu aktifitas libido) membuat kita terhipnotis oleh obyek yang dijual oleh produsen telekomunikasi tersebut. Alhasil, produknya sukses terjual di tengah-tengah masyarakat, tapi pernahkah kita memikirkan dampak dari si model? Model ini pun terkena dampak sosial dan mungkin akan menjadi bahan pelecehan karena angka tarif yang terpampang di tengah-tengah dadanya seolah-olah menjelaskan bahwa harga si model pun setarif dengan produk yang diobyeknya.

Lalu apa yang menjadi masalah terhadap selera propaganda? Terlalu naif apabila menyalahkan para trendsetter, namun apa yang disebut sebagai hal yang lumrah apabila terjadi penyalahgunaan terhadap kehendak untuk mengamini sesuatu? Bagi saya, segala bentuk yang dilakukan atas nama selera propaganda merupakan tindakan yang sangat absurditas, tidak mendasari atas kehendak dalam memiliki sesuatu dan hidup dalam keragu-raguan. Seolah-olah kehendak kita dibatasi oleh sekat-sekat yang kita tidak bisa bernafas tanpanya.

Para trendsetter ini, dengan seenak-enaknya menyerahkan dirinya untuk dijual oleh para produsen-produsen yang menggunakannya secara bijak demi keuntungan yang lebih besar lagi. Apalagi kalo bukan untuk sebuah rantai pembunuhan terhadap trend-trend yang sudah usang, sehingga para produsen ini secara tidak langsung berhadapan dengan globalisasi-globalisasi, tantangan-tantangan baru dihadapan para birokrat-birokrat tua yang juga sudah usang dan tidak bermakna lagi bagi para kaum intelektual modern.

Semoga apa yang saya takutkan tentang selera propaganda menjadi benar-benar absurd dan tidak dijadikan agama baru bagi para pemuda/i bangsa yang sedang menjajaki jati diri sendiri maupun bangsa tempat ia tinggal.