Lagi baca-baca tentang negeri ijasah di situs Antara, jadi pengen bahas pernyataan disitu yang berkesimpulan akhir bahwa negeri kita ini negeri ijasah. Lawan bandingnya adalah negeri tetangga, Malaysia. Disitu diceritakan bahwa di Malaysia tidak perlu ijasah untuk dapat pekerjaan, yang penting skill. Okay, sedangkan di negara kita yang dibutuhkan adalah ijasah.
Memang jadi debat klo kita ngomongin perlu atau ngganya ijasah, sementara universitas yang membuat ijasah itu jadi ga berarti, jadinya kaya tiket masuk ke kantor, klo ga bagus ya ga masuk. Tapi kalau mau ditarik garis merahnya, sebenernya bahasan utama debat ini yaitu tentang perlunya sebuah ijasah atau lebih mementingkan skill dalam mencari pekerjaan.
Ok, saya cuma menggambarkan keadaan saya beberapa bulan yang lalu sebagai mahasiswa. Karena untuk mendapatkan yang namanya ijasah itu kita perlu berinteraksi dengan sejumlah mahasiswa yang lain (berorganisasi, nongkrong, diskusi forum), bergulat materi dengan dosen di kelas, mengerjakan tugas akhir, dan lain sebagainya, saya rasa memperjuangkan ijasah menjadi worth it mengingat apa yang telah ditempuh untuk mendapatkan ijasah tersebut merupakan skill (kemampuan) kita yang bisa kita jual di depan HRD perusahaan. Ada banyak hal yang semuanya tercakup disitu, softskill dan hardskill kita pun diuji di sidang akhir.
Jadi, saya rasa semua kembali ke individunya masing-masing. Siapa yang membawa ijasah itu menjadi bernilai ya kita ini, sang pembawa ijasah.
Ijasah vs skill
Kamis, 01 Januari 2009
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 22.51 0 komentar
Label: sekitar
Ganti tahun
Rabu, 31 Desember 2008
tahun baru sekarang..2009, tambah 1 angka dari 2008.
ada yang berubah selain angka yang nambah?
hmm...koq masih sama aja..
tetep jual janji, makan gusuran, malah nambah tawuran tuh..
lho koq daerah pendidikan malah makin item..
yaah..keliatannya cuma ganti tahun aja..
Powered by ScribeFire.
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 17.18 0 komentar
Label: ngawur
Mau buka usaha tapi telat
Sabtu, 12 Juli 2008
Mau bikin partai tapi telat, hmmmm....
kan lumayan bisa jadi ajang pembelajaran, belajar berjuang mencapai tujuan dengan cara apapun,
termasuk ngibulin rakyat, bersilat lidah, memahami birokrasi, konstitusi ataupun sistem yg ada dan sambil mengamati celah-celahnya yang bisa dimnafaatkan untuk mencapai tujuan, entah tujuan pribadi ataupun pribadi juga...
yang penting tujuan...
weleh... weleh,,....
hayo....................
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 04.13 0 komentar
Label: ngawur
Bunuh......!
Sabtu, 05 Juli 2008
Bunuh perasaan dan ganti dengan kesadaran
dengan begitu menjadi sadar apa yang dirasakan dan merasakan
fiuh....
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 08.09 0 komentar
Label: ngawur
Perdamaian Jilid II
Jumat, 20 Juni 2008
Jika warnanya abu-abu dan mengiyakan bahwa warna tersebut adalah putih maka berjuanglah apapun caranya agar tercapai pengakuan warna sesungguhnya.
Walaupun hasil akhir dari perjuangan tersebut warnanya berubah menjadi hitam, kurang lebih seperti kutipan kata-kata penyemangat dari seorang filsuf F. Nietzsche : "kirimkanlah kapal-kapalmu ke lautan yang belum dipetakan".
Sekian ngelanturnya.
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 12.38 0 komentar
Label: ngawur
Yang lalu dan kemungkinan yang akan datang
Terbenam di dimensi masa lalu merupakan hal yang sangat merugikan, karena sebesar-besarnya usaha yang dikeluarkan tak akan bisa merubahnya dimana dalam kondisi ini akan menutup terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bisa diciptakan oleh kemampuan sendiri di masa yang akan datang. Dan seharusnya setiap detik yang akan datang haruslah(diusahakan) bernilai progresif.
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 12.26 0 komentar
Label: kontemplasi
Sabtu, 07 Juni 2008
Melupakan sesuatu secara tidak sengaja tidaklah sulit karena memang lupa untuk mengingatnya.
Dalam hal tertentu, mengingat sesuatu yang buruk akan sangat menyakitkan karena hal buruk tersebutlah yang mengakhiri sesuatu yang sebelumnya adalah baik.
Mengingat hal yang baik juga sangat menyakitkan karena hal baik itu sekarang telah terlewati dan diakhiri oleh hal buruk. Sakit, karena hal baik itu sudah tidak dirasakan lagi.
Tapi melupakannya hal tersebut juga bukan hal yang mudah karena ada bagian yang terdalam tidak merelakannya dan hal ini bisa lebih menyakitkan. Seindah-indahnya melupakan kadang masih lebih indah kesakitan karena mengingatnya.
sakit karena lupa
lupa karena sakit
ingat karena sakit
sakit karena ingat
lupa dan ingat karena sakit
sakit karena lupa dan ingat
dan
setidaknya masih ada yang diingat walapun sakit
dan bisa lebih sakit karena tidak mengingatnya
lupa dan ingat sama-sama sakit
fiuhh......
Diposting oleh sketsa terbengkalai di 12.38 0 komentar